Rem Ini Bisa ‘Melihat’

Automatic Emergency Braking (AEB) kini  menjadi fitur yang diperhatikan konsumen saat memilih mobil baru. Dengan teknologi ini mobil seolah-olah punya mata  dan bisa mengingatkan pengemudi untuk mengerem. Karena dinilai efektif meningkatkan keselamatan di jalan raya, pemerintah Amerika Serikat mewajibkan setiap mobil yang dijual di negara itu dilengkapi dengan fitur ini paling lambat September 2022.  Toyota rencananya mulai akhir 2017 akan memasang fitur ini disemua modelnya.  Di Indonesia, rem canggih ini juga sudah tersedia, seperti Smart City Brake Support (SCBS) yang digunakan sedan Mazda6.

Meskipun cerdas dan tangkas, teknologi ini tidak menghilangkan peran manusia sebagai penentu utama keselamatan di jalan raya.  Teknologi ini hanya membantu jika pengemudi gagal merespon situasi yang berbahaya. Dan tidak seperti ABS, BA dan EBD,  AEB bisa membuat keputusan sendiri. Fungsi utama Automatic Emergency Braking bukan menghentikan mobil. Tapi memperlambat kecepatan mobil serendah mungkin, sehingga jika benturan tak terhindarkan, dampaknya tidak parah-parah amat. Tapi jika mobil bergerak pada kecepatan rendah, biasanya teknologi ini mampu menghentikan mobil sesaat sebelum menabrak.

Prinsip dasar AEB adalah; jika komputer mobil curiga  mobil akan menabrak sesuatu di jalur lintasannya, dan pengemudi tidak bereaksi menginjak pedal rem, sistem secara otomatis mengaktifkan rem dan mengurangi kecepatan agar efek benturan bisa diminimalisir.

Agar bisa membaca situasi didepannya, mobil mengandalkan informasi dari radar, laser dan kamera.  Beragam informasi yang ditangkap perangkat itu akan diolah komputer untuk mengetahui jarak benda-benda di jalur yang akan dilewati.  Informasi jarak  itu kemudian dikombinasikan dengan informasi kecepatan mobil.  Komputer mobil kemudian akan menghitung berdasarkan faktor-faktor itu dan jika ada kemungkinan benturan, sistem akan memperingatkan pengemudi dengan suara atau visual dan menyiapkan sistem pengereman untuk memaksimumkan daya henti. Jika pengemudi tidak merespon, sistem akan langsung mengaktifkan rem.

Subaru Outback menyebut fitur ini EyeSight.  Kemampuannya, sanggup menghentikan mobil hanya beberapa inch dari penghalang.  Dan sistem ini menghentikan mobil dengan halus dan terukur. Komputer bisa mengukur secara akurat berapa banyak tenaga pengereman yang diperlukan untuk melambatkan mobil berdasarkan kecepatan awalnya.

Volvo memisahkan teknologi AEB menjadi dua yaitu untuk kecepatan tinggi dan kecepatan rendah.  City Safety untuk memperlambat laju mobil pada kecepatan rendah dan Collision warning system pada kecepatan tinggi. Jadi jika anda sedang merayap ke kantor, maka City Safety yang berjaga. Jika sistem menduga mobil terlalu dekat dengan mobil didepan, CIty Safety akan mulai mengerem dan menyalakan lampu LED di kaca depan seperti lampu rem. Harapannya pengemudi menginjak pedal rem. Jika tidak, sistem akan mengerem otomatis. Jika jalanan lebih lancar dan mobil bergerak lebih lebih cepat dari 48 km/jam maka yang giliran jaga adalah collision warning system.

Riset Volvo menunjukkan 75 persen tabrakan yang dilaporkan terjadi pada kecepatan 30 km/jam atau kurang dan separuh tabrakan dari belakang, pengemudi bahkan tidak sempat menginjak rem saat terjadi. Automatic braking akan mengurangi jenis kecelakaan seperti ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s