EBD: Kawan Setia ABS

Pada saat mengerem kuat-kuat, berat mobil bergeser ke roda depan.  Akibatnya daya cengkram roda belakang berkurang bahkan mungkin bisa hilang sama sekali. Yang terjadi kemudian adalah roda belakang terkunci. Resiko roda belakang terkunci menyebabkan seluruh beban pengereman terpusat di roda depan dan hanya mengandalkan separuh tenaga pengereman, karena separuhnya lagi tidak berfungsi, terbuang sia-sia ke roda belakang.  Akibatnya jarak pengereman bertambah panjang dan resiko kecelakaan semakin besar.

 

Electronic brake-force distribution (EBD) mengurangi bahaya-bayaya itu dengan menyeimbangkan tenaga pengereman ke masing-masing roda berdasarkan distribusi beban kendaraan. Prosesnya berlangsung secara elektronik sehingga proses perlambatan lebih efektif.   Sistem keselamatan ini bukan saja mengurangi resiko roda terkunci tapi juga mengalokasikan tenaga pengereman ke roda-roda yang memiliki traksi yang baik dan mampu mengerem secara efektif.

 

Sejak pertengahan 2000-an EBD semakin popular.  Piranti ini selalu dipasang dengan ABS. Keduanya sama-sama mencegah roda terkunci saat pengereman. Perbedaannya,  EBD membagi aliran tenaga pengereman ke roda yang daya penghentiannya paling baik.  sering kali jadi satu paket dengan ABS (Anti-lock Braking System) dan AB (Brake Assist). Contohnya pada Toyota Sienta, Suzuki SX4 S-Cross dan Honda Civic.

 

Komponen penyusun sistem EBD adalah sensor kecepatan yang memonitor kecepatan rotasi masing-masing roda.  Brake-force modulator yang menambah atau mengurangi daya pengereman di masing-masing roda, detector akselerasi/deselarasi yang memonitor perubahan gerak mobil ke depan atau ke samping. Sensor yaw  yang memonitor ayunan kesamping. Electronic Control Unit yang mengumpulkan semua informasi dari semua sensor dan memberi perintah kepada brake-force modulator.

 

Jika sistem ABS mendeteksi roda akan terkunci atau mobil mengayun dengan berlebihan, maka sistem akan mendistribusikan kembali tenaga pengereman untuk mengoptimalkan daya pengereman. Dengan mengatur distribusi gaya pengereman secara otomatis agar distribusinya optimal, pengerman bisa lebih maksimal.

 

Namun bagaiman tingkat efektifitas EBD untuk memperpendek jarak pengereman? Kembali  tergantung kepada seberapa cepat reaksi pengemudi terhadap potensi bahaya dan seberapa aman menghidar dari benturan. Titik rawan inilah yang kemudian melahirkan teknologi rem otomatis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s