Mencari Manfaat dari Bunga Negatif

Skema suku bunga negatif semakin dipertimbangkan menjadi perangkat untuk menangkal krisis ekonomi. Investor mulai melihat potensi keuntungan memegang surat hutang dengan yield negatif.

 

 
Emas sedang diburu di Jepang. Demikian pula safe deposit boxes.   Sepanjang paruh pertama tahun ini permintaan emas naik 30 persen, menurut Tanaka Kikinzoku Kogyo K.K. retailer emas terbesar di negeri itu.  Sementara permintaan safe deposit box meningkat hingga dua kali lipat. Semua itu gara-gara Bank Sentral Jepang  (Bank of Japan/BOJ) menerapkan suku bunga negatif (negative interest rate/NIR) per Februari tahun ini.

NIR memang merombak paradigma sistem perbankan selama ini. Lawan dari suku bunga positif  yang selama ini dikenal, dimana penabung/deposan mendapat imbalan bunga dari dana yang dikelola bank.  Skema NIR justru penyimpan uang  harus membayar bunga kepada bank. Artinya jika anda menyimpan Rp 100 juta, saat jatuh tempo, bank  membayar kurang dari Rp 100 juta.

Kebijakan negative investment ratio, kata Pengamat Ekonomi Tony Prasetyantono dalam situasi dan kondisi ekonomi normal, kebijakan ini tak perlu diambil. “Idealnya suku bunga harus positif, untuk memberikan insentif,” kata Tony, Selasa kemarin.

Kebijakan NIR ini bukan untuk masyarakat umum, melainkan diberlakukan oleh bank sentral suatu negara kepada bank umum. Tujuannya agar bank umum tidak menyimpan uang di bank sentral. Uang tersebut dialihkan ke masyarakat melalui kucuran kredit dan menggerakkan sektor riil. Jika suku bunga yang ditetapkan tinggi, bank cukup menyimpankan uangnya di bank sentral dan memperoleh imbalan, bunga ketimbang mengucurkan kredit ke masyarakat. “Supaya ada loan, ekspansi kredit. Dari situ ekonomi akan berjalan,” kata Tony.

Krisis ekonomi bisa terjadi ketika orang lebih suka menabung daripada membelanjakan uangnya.  Solusi konvensional suku bunga diturunkan. Jika penurunan suku bunga tak berdampak efektif, bank sentral bisa menurunkan suku bunga tersebut menjadi negative. “Ini kondisi ekstrim ketika suku bunga rendah belum efektif mendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Kebijakan NIR hanya bisa diambil ketika kondisi perekonomian tidak normal, dalam kondisi krisis dan bukan kebijakan jangka panjang. Pada periode tertentu kebijakan ini harus dikoreksi. “Kebijakan suku bunga negative itu diambil kalau bank sudah tidak lagi mengucurkan dana dan kita sudah kehabisan akal,” tegas Guru Besar UGM itu.

Kebijakan suku bunga rendah juga bukan kebijakan tunggal. Ia harus dikombinasikan dengan kebijakan lain, semisal quantitative easing, atau kebijakan lainnya. Quantitative easing dilakukan untuk mencegah penurunan suplai uang. “Tidak ada yang murni suku bunga rendah, harus mix policy,” tambah pengamat ekonomi pakar ekonomi Yanuar Rizky. Jika suku bunga yang ditetapkan terlalu rendah ekspansi pasar tak mungkin terjadi

Sejatinya,  ide semacam NIR sudah muncul akhir abad 19. Saat ekonom Jerman, Silvio Gesell mendesak pemerintah agar membebankan pajak pada uang yang diendapkan di bank sentral. Tujuannya memaksa bank menyalurkan kredit.  Namun sepanjang abad 20, konsep ini tidak pernah diterapkan. Alasannya sederhana, siapa sih yang mau uangnya berkurang?

Saat ekonomi Amerika Serikat tersandung krisis subprime mortgage (2007 – 2009),  wacana NIR kembali ke permukaan antara lain lewat Gregory Mankiw, ekonomis Harvard dan mantan kepala dewan penasehat ekonomi Presiden Bush.  Dia menawarkan ide ini tahun 2009.   Menurutnya, NIR mendorong suku bunga pinjaman turun sehingga pengusaha tertarik untuk meminjam guna menggerakan usahanya.   Usulannya tenggelam dalam riuh rendah peangangan krisis saat itu.

Sebagai instrumen moneter, NIR memang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan BOJ menerapkan pendekatan tidak biasa itu untuk merangsang pertumbuhan ekonomi negara itu. Jauh sebelumnya, sejak penghujung 1990an, Jepang sudah memberlakukan suku bunga rendah, mendekati nol. Tujuannya agar bank agresif mendorong pertumbuhan kredit. Belakangan, Jepang merasa strategi itu tidak efektif.

Teorinya, bunga bank yang rendah akan melemahkan nilai mata uang. Melemahnya Yen  akan menguntungkan eksportir Jepang. Karena konsumen manca negara bisa membeli barang Jepang dengan harga lebih murah.  Selanjutnya industri dalam negeri akan menggeliat. Selain itu, konsumen domestik yang memegang uang tunai berlebih, diharapkan membelanjakan lebih banyak. Peningkatan belanja masyarakat diharapkan ujungnya juga menggerakan ekonomi. Per Februari 2016, bunga deposito ditetapkan -0.1persen.

Yang terjadi ternyata tidak seindah bayangan. Nilai Yen malah menguat. Menurut The Wall Street Journal, yen menjadi haven currency ditengah ketidapkastian pasar global dan melemahnya dollar setelah Federal resevere kembali menutup harapan akan kenaikan suku bunga.   Disisi lain, publik dan pengusaha di Jepang justru menahan belanjanya karena muncul kekhawatiran ketidakpastian di masa depan.

Kebijakan BOJ itu lalu dinilai kontraproduktif.  Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda menilai situasi keuangan Jepang justru akan lebih buruk jika BOJ tidak menerapkan NIR. “Saya tidak berpikir bahwa penerapan NIR menyebabkan yen menguat dan pasar saham menurun di Jepang,” katanya saat berpidato di Columbia University, New York seperti di kutip japantimes. Dia menolak jika kebijakannya itu dinilai kontraproduktif.  Hingga pekan ini,  kebijakan NIR masih diterapkan dan menjadi bagian penting dari upaya menggerakkan ekonomi negara itu.

Dalam sejarah, NIR  justru diterapkan pertamakali oleh Bank Sentral Denmark. Tahun 2012, ketika krisis hutang Eropa mencapai puncaknya,  pemilik modal  mengamankan dananya di bank-bank  Denmark.  Bank-bank itu lalu menimbun uangnya di Bank Sentral.  Banjir Euro membuat Bank Sentral Denmark kelabakan menjaga nilai Krone berada pada rentang yang telah ditetapkan. Sampai pada titik  bunga 0,05 persen,   dana masih mengalir masuk.  Tidak ada jalan lain,  demi menjaga Krone, Bank Sentral Denmark memasuki teritori baru yang tidak pernah dilakukan siapapun sebelumnya yaitu NIR.

Pada awal penerapannya, suku bunga dipatok -0.1. Kini berada di rentang -0.65 persen.  NIR berhasil menjauhkan spekulan dan menjaga nilai mata uang Krone di level yang ditentukan.  Ekonomi Denmark relatif aman menembus badai krisis Eropa.

Situasi ekonomi dunia yang masih rawan krisis  mengilhami sejumlah petinggi bank sentral dunia untuk memasukkan instrumen NIR sebagai salah satu arsenalnya dalam menghadapi turbulensi ekonomi di masa depan.  Gubernur Bank Sentral Canada Stephen Poloz juga  Chairman Federal Reserve Janet Yellen secara terbuka sudah mengungkapakan tidak menutup peluang akan menerapkan kebijakan itu di masa depan.

***

Ditengah ancaman krisis ekonomi, para investor memilih mengamankan dananya di surat utang pemerintah (souverign bond) yang dianggap cukup aman.  Dan investor berani menempatkan uangnya pada bonds yang yield-nya negatif.   Di Jepang saat ini, 80 persen surat hutang bunganya -0.004 persen,  nilainya USD 7,9 triliun.

Ternyata tren ini bukan hanya di Jepang tapi juga di negara-negara maju lainnya.  Surat hutang Jerman tempo 10 tahun  diperdagangkan dengan rate -0,115. Sementara surat hutang 10 tahun Swiss dikenakan bunga -0,5274 persen. Bloomberg memperkirakan, sekitar 30 persen global souverign bonds kini diperdagangkan dengan bunga negatif.

“Kekhawatiran soal masa depan ekonomi global yang dipicu Brexit mendorong permintaan surat hutang pemerintah berkualitas tinggi pada bulan Juni,” demikian paparan Fitch Rating yang dikutip laman CNBC.  Yang menarik, pemegang surat hutang pemerintah itu cenderung memegang surat hutangnya dalam jangka waktu lama, 7 – 10 tahun. Indikasinya, per Juni pemegang surat hutang jenis itu, meningkat  hampir dua kali lipat dibandingkan April 2016.

Mengapa investor masih menamankan uangnya di NIR?   Menurut the Economist ada tiga golongan pembeli surat hutang pemerintah. Pertama,  investor yang harus memiliki surat hutang pemerintah, tidak peduli soal keuntungan finansial yang ditawarkan.  Dalam kategori ini meliputi bank sentral, yang memengan bonds sebagai bagian dari cadangan mereka, dana pensiun, juga bank-bank yang membutuhkan surat hutang pemerintah untuk memenuhi persyaratan likuiditas dan dipakai sebagai jaminan saat pinjam uang di money markets.

Kedua,  investor yang berspekulasi mendapatkan keuntungan dari NIR.  Contohnya, surat hutang Jepang denominasinya Yen. Investor asing akan senang memegan bond ini jika  Yen terus menguat. Dan memang Yen menguat. Keuntungan dari selisih kurs itu lebih besar dari bunga negatif yang harus dibayar.  Investor lokal akan membeli bond pemerintah jika memprediksi akan terjadi deflasi berlarut-larut. Toh saat jatuh tempo, uang simpanan mereka tetap memiliki daya beli yang kuat, meskipun secara nominal berkurang.

Ketiga,  investor yang cemas  dan memilih rugi sedikit dengan memegang bond pemerintah daripada rugi besar di investasi lain. Saat ini nilai saham-saham Eropa hampir 20 persen dibawah level tahun lalu, harga komoditas anjlok, default rate surat  hutang swasta melonjak.  Karena itu bonds pemerintah terlihat seperti surga ditengah-tengah badai  keuangan, meskipun bunganya negatif.

Tidak mengherankan ketika Canadian Imperial Bank of Commerce  menjual bonds dengan negative yield,  peminatnya over subscribed hingga dua kali lipat.    Bank ini berhasil menyerap dana $ 1,8 miliar dengan yield -0,009 dengan masa jatuh tempo enam tahun.

*Reportase HNU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s