Pembunuh Liver

wine-of-all-colors.jpg

Sirosis sering disebut pembunuh siluman yang kehadirannya tidak terdeteksi pada tahap awal. Penderita biasanya baru menyadari ketika stadiumnya sudah tinggi dan kualitas hidupnya menurun.

Siroris ditandai dengan  perubahan jaringan hati menjadi kasar, dan kehilangan fungsinya sebagai penyaring racun.  Dokter menklasifikasikan berdasarkan Child-Pugh Classification,  terdiri dari A, B, dan C. Yang terberat adalah Child-Pugh C.  Pada fase ini, mata dan kulit pasien sudah tampak kuning, perut buncit karena asites (penumpukan cairan dalam tubuh), kadang ada muntah darah, dan lain-lain.  Tahap terakhir pada pasien sirosis biasanya adalah ensefalitis atau keracunan pada sel otak. Akibatnya sang pasien tidak sadarkan diri, sesak nafas, mulutnya biru, dan tidak kenal orang.

Biasanya pada pasien sirosis, komplikasinya adalah kegagalan ginjal. Tapi ada juga kegagalan paru-paru. Paru-parunya terendam sehingga susah bernafas dan sesak

Terapi utama sirosis adalah transplantasi hati. Disamping itu juga mengobati penyebabnya, seperti pemberian anti virus hepatitis juga menghentikan konsumsi alkohol.

Konsumsi alkohol berlebihan memang salah satu penyebab sirosis. Alkohol yang terserap darah saat proses pencernaan, akan dihadang dan didetoksifikasi oleh sel-sel hati.  Pada peminum berat, hati bekerja terlalu berat. Lama-lama sel-selnya rusak dan berujung pada sirosis.

Faktor kedua adalah peran bakteri jahat dalam usus  peminum alkohol yang juga ikut merusak sel-sel hati. Konsultan Gastroentrohepatologi dari Divisi Hepatologi-Departemen Ilmu Penyakit Dalam di FKUI/RSCM, dr.Irsan Hasan menjelaskan bahwa teori dimana terjadi peningkatan mikrobiota (kuman jahat) pada peminum alkohol sudah lama diketahui. Kuman-kuman tersebut terbukti berperan dalam hal terjadinya peradangan dan kerusakan hati pada alkoholik, karena sebagian besar aliran darah yang membawa sari makanan akan pergi ke hati agar produk makanan tersebut dapat diolah. Pada saat itu kuman yang tumbuh berlebihan ikut masuk ke dalam hati. “Tetapi mengapa sampai terjadi pertumbuhan kuman (bacterial overgrowth) masih menjadi perdebatan,” jelasnya.

Bagaimana  mekanisme mahluk renik ini merusak sel hati terungkap baru-baru ini dari hasil penelitian para ahli di Universitas California yang dipaparkan secara rinci dalam mingguan Cell Host & Mikroba. “ Kami sudah  lama mengetahui bahwa pasien penyakit hati yang sebelumnya peminum alkohol kelas berat juga menderita dysbiosis usus, di mana bakteri dalam usus meningkat,” kata gastroenterologist Bernd Schnabl yang memimpin penelitian itu.

Kondisi serupa juga ditemukan pada tikus.  Dan para ahli juga mengetahui pemberian antibiotik dan menghilangkan bakteri dalam usus membuat tikus terlindung dari sakit hati.  Namun para ahli belum bisa menjelaskan bagaimana mekanismenya. “Kami mulai bertanya-tanya, apa yang menyebabkan ini,” tutur ahli organ-organ pencernaan itu.

Penelitian yang dilakukan akhirnya mendorong mereka untuk fokus pada molekul antimikroba (antimicrobial molecules) REG3B dan REG3G serta gen yang memproduksinya, Reg3b dan Reg3g. Gen ini hanya ditemukan dalam usus dan memiliki spektrum luas terhadap organisme gram-negatif dan gram positif. Melalui serangkaian percobaan, para peneliti mengetahui bahwa pemberian alkohol menurunkan kemampuan gen memproduksi molekul antimikroba REG3 secara signifikan. Hal itu terbukti pada tikus laboratorium yang sudah dirancang agar kekurangan gen itu ternyata  mengalami sakit liver yang parah.

Sejatinya mikroba itu pada dasarnya sama di semua binatang, terlepas dari banyaknya molekul REG3 yang diproduksi. Namun saat peneliti memeriksa lebih detail pada mukosa usus, daerah berlendir sebelah dalam dinding usus, mereka melihat perbedaan. “Bakteri dalam mukosa berkembang biak secara dramatis jika tidak ada molekul-molekul ini,” kata Schnabl.  Ketika jumlah mikroba jahat itu bertambah, mereka mulai bermigrasi melewati dinding usus  dan bersama aliran darah dari sistem pencernaan masuk ke dalam hati. Kehadiran mikroba jahat memicu sel T (sel kekebalan tubuh) untuk aktif dan mulai menyerang.  Proses ini menyebabkan peradangan dan mengakibatkan bekas luka di hati.

Tim peneliti kemudian menyiapkan satu tikus percobaan lagi. Kini dirancang agar jumlah gen Reg3g berlebih.  Hasilnya, bakteri tidak bisa bertahan melawan sistem pertahanan di mukosa dan tetap terperangkap di dalam usus dan liver aman dari serangan dan kerusakan yang diakibatkannya.

Selanjutnya para peneliti meneliti pada sampel usus manusia  yang dilakukan saat kolonoskopi.  Dan seperti diduga, peminum berat memiliki lebih banyak bakteri did dalam mukosa, persis seperti yang terlihat pada tikus pecobaan.  Ini menegaskan alkohol menekang produksi sistem perlindungan alami tubuh.

“Untuk pertamkalinya kami berhasil menunjukkan mekanisme bagaimana alkohol merusak sistem pertahanan dalam usus, menyebabkan tubuh gagal  mengendalikan bakteri mikrobiota, sehingga mereka bisa pindah dan akibatnya anda sakit hati,” tambahnya.

Dengan mengetahui penyebab spesifiknya, para ahli bisa merancang pengobatan yang lebih tepat sasaran. Protein REG3 bisa ditambahkan langsung jika kekurangan. Atau menggunakan prebiotic (bahan pangan yang berfungsi sebagai media untuk pertumbuhan dan perkembangan  untuk flora (kuman) normal dan menghambat pertumbuhan kuman jahat dalam sistem pencernaan)  atau probiotic (mikroorganisme hidup /flora normal yang secara alamiah terdapat di dalam sistem pencernaan) untuk meningkatkan kehadirannya.

Pemberian lipopolysaccharida  memang dapat meningkatan tanda-tanda kehadiran gen Reg3. Tapi molekul-molekul itu dapat memperparah gangguan liver, jadi tidak bisa digunakan untuk memperbaiki kekurangan gen pada penyakit yang terkait alkohol.

“Sepuluh tahun lalu, jika anda mengatakan bahwa manipulasi gen di dalam usus bisa mempengaruhi liver, anda bisa dianggap orang gila,” tutur Schnabl. “Tapi kini setelah memahami hubungan antara liver dan usus,  anda bisa memanipulasi sesuatu yang spesifik dalam usus, anda bisa memberi pengaruh di suatu tempat yang jauh,” tambahnya.

-Bersama  FLY-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s