Indra Peraba di Kulit Imitasi

Kulit sintetis lembut dan elastis persis seperti kulit asli manusia itu bisa merasakan perbedaan suhu, kelembaban, dan punya kemampuan meraba.

smart skin

Kulit imitasi yang ditanami ribuan sensor


Kulit sintetis dengan indra peraba berhasil dikembangkan para peneliti Korea Selatan. Professor Dae-Hyeong Kim dari School of Chemical and Biological Engineering, Seoul National University, mengumumkan hasil kerjanya 9 Desember lalu. Kunci dari penemuannya adalah menanamkan sensor-sensor mikroskopik nan elastis kedalam karet silikon lembut. Sensor-sensor ini bisa mendeteksi tekanan, suhu, lembab bahkan deformasi kulit karena paksaan. Sensor dibuat dari polyimide (PI) pellicle, crystalline silicon nanoribbon (SiNR) yang sangat tipis serta pita emas berukuran nano sebagai penghangat.

Sensor-sensor yang ditanam itu bisa mengukur tekanan, suhu dan kelembabapan benda yang disentuh dan serta mendeteksi tingkat peregangannya. Sementara penghangt bisa meniru suhu tubuh manusia. Sensor-sensor dan penghangat tetap bisa beroperasi meskipun kulit itu meregang hingga 50 persen, sehingga membuka peluang untuk membuat kulit bagi pergelangan tangan buatan. Saat kulit ini dipasang di lengan buatan, para peneliti mendapatkan data bahwa fungsi-fungsi sensor masih bekerja saa beraktifitas yang membuthkan perenggangan hingga 30 persen seperti menekuk pergelangan tangan, mengepal atau berjabat tangan.

Dalam pengujian mendekap boneka bayi dengan tangan palsu dan tangan asli, kamera inframerah berhasil menangkap data bahwa lengan palsu bisa mempertahankan suhu yang sama seperti lengan asli. Ini mengindikasikan bahwa apa saja yang disentuh oleh lengan palsu bisa merasakan kehangatan tubuh manusia.

Para peneliti juga sukses meneruskan sinyal-sinyal sensor dari kulit tangan palsu ke otak tikus percobaan lewat syarat tepi. Peneliti menyambungkan elektroda mikro ke susunan syaraf tepi tikus dan sensor-sensor dari kulit palsu. Saat kulit ditekan, electroencephalogram (EEG) tikus mengindikasikan sinyal itu sampai ke otak. Hal ini menunjukkan peluang untuk merasakan ransangan dari luar melalui kulit cerdas ini.

Kulit cerdas ini akan menjadi pasangan serasi untuk lengan prostetik modern yang digerakkan dengan pikiran pemakainya. “Kami sudah menyaksikan suksesnya lengan prostetik yang digerakkan pikirn. Dalam beberapa tahun kedepan, saya berharap bisa melihat perangkat prostetik yang dibuat dari kulit buatan yang bisa mendeteksi stimulus dari luar dan merespon seperti kulit asli, yang dioperasikan lewat sinyal otak,” kata Profesor Dae-Hyeong.

Lengan yang digerakkan pikirin seperti yang disebut profesor Dae-Hyeong itu dikembangkan oleh DARPA sejak delapan tahun lalu. Lembaga penelitian teknologi canggih Departemen Pertahanan Amerika Serikat itu mencari solusi yang lebih baik bagi para mereka yang kehilangan tangan.

Hasil pengembangan kini sudah mendapat persetujuan dari Food and Drug Administration. Lengan palsu yang dikendalikan otak itu disebut DEKA Arm. Lengan palsu ini dibuat oleh perusahaan Dean Kamen, penemu Segwa. Ukuran dan beratnya sama seperti lengan orang dewasa. Dengan keluarnya persetujuan FDA, maka lengan palsu itu sudah bisa diproduksi massal.

lengan palsu,sensor

deka arm dikontrol pikiran pengguna yang dikendalikan lewat sisa otot di lengan


Lengan ini dikontrol oleh elektroda electromyogram yang ditempatkan di ujung lengan yang masih tersisa. Sensor-sensor ini bisa memanfaatkan sinyal listrik dari gerakan otot di lengan atas dan komputer di lengan palsu akan menerjemahkan sinyal dan mengubah menjadi perintah gerakan yang harus dilakukan lengan itu. Hasilnya sangat mengesankan, pasien yang menggunakan lengan palsu ini bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya mustahil seperti menggunakan korek api atau memegang kunci, dan berkat vibration feedback di pangkal prostetik ini, dia bisa memungut anggur atau telur tanpa pecah.

FDA menyebut DEKA Arm lengan prostetik pertama yang dikendalikan sinyal listrik dan bisa melakukan sejumlah gerakan secara simultan. Untuk mencapai hasil itu, DARPA menginvestasikan sekitar $40 juta untuk proyek ini seperti dlaporkan Bloomberg Business Week. Dan ini baru sebagian dari anggaran $100 juta untuk program “Revolutionizing Prosthetics”. (IDR)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s