Naik Turun Nasib Takata

Takata Corp. sejatinya adalah perusahaan pemintal kain. Hanya hitungan tahun masuk tiga besar dunia

airbag Takata

Proses produksi airbag

Takata Corp. sejatinya adalah perusahaan pemintal kain. Persinggungannya dengan dunia otomotif karena salah satu anak perusahaannya membuat sabuk pengaman mobil. Pada dekade 80-an, sebuah perusahaan otomotif membujuk Takata untuk masuk ke bisnis ini. Mendengar tawaran ini, Juichiro Takada, orang nomer satu Takata Corp. awalnya menolak. Menurutnya terlalu beresiko bagi perusahaan untuk memproduksi kain untuk airbag. Karena tuntutannya yang begitu tinggi, harus bisa mengembang dalam waktu sepersekian detik, membuat satu kesalahan saja bisa menghancurkan seluruh perusahaan yang diwarisi dari ayahnya. Namun pada pesta tahun baru 1985 Juichiro Takada mengumumkan perusahaannya akan masuk ke bisnis airbag. Insting bisnisnya menuntun membuat keputusan itu.

Terlanjur basah, Takata tidak tanggung-tanggun menceburkan diri di bisnis ini. Takata kemudian merambah bisnis inflator airbag. Inflator adalah sistem yang bertanggungjawab mengembangkan airbag. Inflator ini berisi senyawa kimia yang mudah meledak. Saat terjadi benturan, senyawa kimia itu akan di reaksikan sehingga menghasilkan gas Nitrogen bertekanan tinggi yang menyemprot masuk ke airbag sehingga mengembang.

Insting bisnis Takada tepat. Airbag yang semula hanya ada ada dimobil mewah, dengan cepat menjadi fitur standar di setiap mobil. Permintaan tumbuh eksponensial. Jutaan orang nyawanya berhasil selamat terlindungi airbag buatan Takata. Dalam waktu singkat masuk dalam tiga besar produsen airbag dunia bersama Autoliv dan TRW.

Tapi tidak semua terlindungi. Ashley Parham, salah satunya. Mei 2009, gadis yang baru saja lulus SMA itu menjemput adiknya di sekolah. Di area parkir sekolah, mobilnya menumbuk mobil lain. Airbag di kemudi mobil yang dikendaraai gadis 18 tahun meletup. Tak dinyana, ada serpihan logam yang melesat bersama letupan airbag. Serpihan itu ternyata mengiris urat nadi di lehernya. Parham mengalami pendarahan hebat hingga tewas. Enam bulan kemudian, Gurjit Rathore, 33 tewas karena pendarahan hebat dileher. Pecahan logam dari inflator airbag dituding sebagai penyebabnya.

Recall terkait airbag ini disinyalir sudah terjadi sejak sejak 2004 meskipun mulai jadi fokus perhatian sejak 2008. Sejak itu, secara beruntun, merek-merek melakukan recall secara terpisah terhadap beberapa modelnya yang kebanyakan di Amerika Serikat (AS).

April 2013 Takata mengumumkan secara resmi ada masalah di airbag-nya. Karena Takata mengaku tidak memiliki informasi yang cukup mengenai merek dan model apa saja yang airbag-nya bermasalah, sejumlah merek memutuskan melakukan recall untuk memastikan kondisi airbagnya. Takata juga mengaku tidak tahu akar masalah problem itu.

September lalu, New York Times melakukan investigasi kasus ini dan menyimpulkan sedikitnya 139 orang mengalami cidera terkait airbag ini. Saat itu dilaporkan sedikitnya dua orang dilaporkan tewas. Kini sudah lima orang diakui tewas terkait problem itu. (IDR)

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s